Senin, 25 Oktober 2010

artikel

Umat Islam Tidak Rela Al-Quran Dibakar


Syahganda Nainggolan (ant)
dakwatuna.com – Jakarta. Pemerintah AS diharapkan dapat mencegah rencana pembakaran Al Qur`an oleh komunitas Gereja “The Dove World Outreach Center”, Gainesville, Florida,pada 11 September ini.
“Bagaimana pun umat Islam di seluruh dunia tidak akan rela kitab sucinya dibakar,” kata Ketua Dewan Direktur Sabang-Merauke Circle (SMC) Syahganda Nainggolan di Jakarta, Rabu.
Selain itu, menurut mantan direktur eksekutif Center for Information and Development Studies (CIDES) Jakarta ini, tidak ada alasan yang pantas dan dapat dipertanggungjawabkan bagi siapa saja untuk membakar kitab suci umat Islam ini.
Apalagi peristiwa pemboman Gedung WTC itu tidak bisa dikaitkan dengan motif agama Islam karena hasil penyelidikan otoritas keamanan AS justru menunjuk bukti keterlibatan jaringan teroris Al Qaeda.
Dengan demikian, tidak terdapat kaitan sama sekali dengan umat Islam maupun kitab suci Al Qur`an sebagai ajarannya, katanya.
“Peringatan tragedi 11 September dengan membakar Al Qur`an merupakan cara primitif dan hina, serta melawan kehidupan demokrasi terbesar milik bangsa Amerika Serikat sendiri.”
“Di samping itu, aksi ini hanya akan menciptakan bumerang anti- Amerika secara meluas di dunia mana pun,” kata Syahganda.
Menurut dia, rencana pembakaran Al Qur`an itu juga diyakini melahirkan bahaya serius bagi warganegara Amerika Serikat baik di negaranya maupun di kawasan lain akibat berkembangnya kemarahan yang sulit dihindarkan khususnya dari kalangan umat Islam.
Padahal di negara Amerika Serikat, pertumbuhan umat Islam saat ini relatif cukup besar. Pembakaran Al Qur`an akan merusak bangsa Amerika dalam menjalankan agamanya itu.
“Masyarakat di Amerika tentu tidak ingin melihat adanya penghancuran ajaran suatu agama, dan pembakaran Al Qur`an dapat membuat umat beragama dihancurkan,” katanya.
Jika Pemerintah AS membiarkan aksi pembakaran Al Qur`an itu terjadi, AS akan ditempatkan sebagai bangsa rasis yang dilindungi oleh negaranya.
Berkaitan dengan masalah ini, Reuters melaporkan dari Washington DC bahwa para pemimpin lintas-agama di Amerika Serikat juga mengecam gerakan “semangat anti-Muslim” di negara itu, terutama terkait dengan kampanye pembakaran Al Qur`an pada peringatan insiden 11 September.
Komandan pasukan AS di Afghanistan juga mengingatkan kalangan gereja di Florida yang menjadi inisiator gerakan pembakaran kitab suci kaum Muslimin tersebut.
Rencana tersebut, katanya, justru dapat membahayakan pasukan Amerika di luar negeri.
Para pemimpin Kristen, Yahudi dan Islam di AS menyayangkan disinformasi dan sikap intoleran sejumlah warga negara adidaya itu terhadap kalangan Muslim Amerika sebagai dampak dari rencana pembangunan gedung pusat komunitas Muslim dan masjid di dekat lokasi serangan 11 September 2001.
Aksi provokatif pastur gereja di Florida itu juga disayangkan Pemerintah AS.
Gedung Putih dan Kementerian Luar Negeri AS mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan sikap resmi pemerintahan Presiden Barack Obama yang menyayangkan rencana aksi pembakaran Al Qur`an itu.
“Kami rasa ini jelas aksi provokatif, tidak menghormati, tidak toleran, dan divisif,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri AS, P.J.Crowley.
“Kami ingin melihat lebih banyak warga Amerika yang menentang seraya menegaskan bahwa (rencana aksi pembakaran Al Qur`an) ini tidak sesuai dengan nilai-nilai Amerika. Jelas, aksi ini `tidak-Amerika`,” katanya.(*) (T.D011/R009/ant/hdn)

Umat Islam Belum Maksimal Beri Kontribusi Terhadap Perekonomian


Ilustrasi (examiner.com)
dakwatuna.com – Jakarta. Umat Islam belum memberikan kontribusi secara maksimal terhadap perekonomian Indonesia. Hanya 13,3 persen kaum Muslim yang bergerak di sektor perekonomian atau dengan kata lain 86,7 persen umat belum menyentuh kegiatan perekonomian.
Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ahmad Abbas memaparkan, dari Rp 5.600 triliun nilai perekonomian bangsa kurang dari 20 persen yang berputar di kalangan umat.
”Hal ini menunjukkan umat Islam belum memberikan kontribusi secara maksimal sesuai porsinya,” tutur Ahmad di sela Diskusi Pemberdayaan Umat di Jakarta, Rabu (13/10).
Karena itu MUI saat ini sedang mencari konsep untuk melakukan pemberdayaan umat. Konsep ini nantinya akan disebarkan ke organisasi masyarakat Muslim dan juga non-Muslim. Ormas Islam dikatakan akan duduk bersama untuk menyusun konsep dalam memberdayakan ekonomi umat dan juga masyarakat Indonesia.
”Jika seluruh umat Islam berkontribusi di bidang perekonomian maka Indonesia akan lebih maju,” tutur Ahmad. Bahkan dipredikasi jika 100 persen umat Muslim berkecimpung di perekonomian, maka Indonesia bisa menjadi negara terkaya keempat di dunia.
Selain itu dipaparkan juga bahwa pengusaha Muslim banyak di lapisan bawah. ”Jarang pengusaha Muslim yang berada di lapisan menengah apalagi di lapisan atas,” kata Ahmad. Faktor ini juga yang menggerakkan MUI untuk merumuskan peta masalah yang menyebabkan pengusaha Muslim banyak di lapisan bawah.
Saat ini jika diibaratkan gambar jumlah dari jenjang bawah hingga atas seperti bentuk piramida di mana bagian bawah menggambarkan jumlah pengusaha kelas bawah. ”Gambar inilah yang akan diusahakan untuk diubah menjadi bentuk belah ketupat di mana pengusaha kelas menengah jumlahnya terbanyak,” tambah Ahmad.
Berdasarkan data yang dihimpun MUI, jumlah pengusaha kelas bawah mencapai 99,05 persen dari total jumlah pengusaha. Sementara pengusaha kelas menengah sebanyak 0,4 persen, sedangkan pengusaha kelas atas hanya mengambil porsi 0,1 persen.
Dan pada kenyataannya, ditambahkan Ahmad, pengusaha Muslim yang menduduki sepuluh pengusaha terkaya di Indonesia hanya satu orang. Harapannya dengan pemberdayaan ekonomi yang sedang dirumuskan konsepnya oleh MUI ini, bisa meningkatkan kelas pengusaha dari kecil ke menengah dan dari menengah menjadi atas.

biodata

nama saya :Zaidin Asyabah
Sekolah di SMA N 3 Sragen
agama Islam Selalu
anak dari pasangan suami isteri
Romdoni & giyarti